12 April 2012

ANTARA BPR JAKARTA DAN IRIAN JAYA BARAT

Diposting oleh Widya_Mauretya di 22.28

Antara BPR JAKARTA dan IRIAN

Melihat kehidupan perbankan di Indonesia , Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak Bank yang dibagi menjadi tiga jenis dalam pelaksanaanya . Pertama , yaitu Bank Konvesional yaitu merupakan Bank yang melakukan kegiatan perbankan secara umum. Kedua ,Bank Syariah , yaitu Bank yang dalam pelaksanaanya tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang dilakukan oleh Bank Konvesional namun Bank Syariah lebih menekankan syariat-syariat islam dalam transaksinya , dan tidak menghalalkan prinsip bunga bank yang dilakukan seperti Bank Konvesional . Namun , Bank Syariah lebih menekankan kepada sistem bagi hasil dalam transaksi perbankan yang dilakukannya . Kemudian yang terakhir yaitu Bank Perkreditan Rakyat atau yang disingkat menjadi BPR . BPR merupakan bank yang dikhususkan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan transaksi pemberian kredit , dan biasanya BPR banyak ditemui di daerah-daerah dibanding di perkotaan .Sebab , belum banyaknya jumlah bank konvesional yang menjamah pedesaan . Dalam kegiatannya , semua bank akan selalu berorientasi memberikan yang terbaik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank-bank tersebut . Oleh karena itu , dibutuhkan suatu penilaian terhadap kinerja keuangan bank-bank tersebut apakah bank tersebut dapat digolongkan sebagai bank dalam kondisi yang sehat atau tidak . Dalam analisis kali ini , saya menggunakan statistik kinerja BPR untuk menilai kondisi keadaan bank tersebut dan mengambil sampel 2 provinsi yang berbeda yaitu DKI Jakarta sebagai ibukota provinsi dan Provinsi Irian Jaya Barat . Dalam menganalisis kinerja keuangan dibutuhkan laporan keuangan yang akan dinilai dalam lima aspek penilain yaitu CAMEL ( Capital , Assers , Management , Earning dan Liquidty ) , dimana aspek capital meliputi perhitungan CAR ( Capital Adequacy Ratio ) , aspek asset meliputi NPL ( Non Performing Loan ), aspek earning meliputi NIM ( Net Interest Margin ) dan BOPO ( Biaya Operasional dibandingkan Pendapatan Operasional ) ,sedangakn aspek likuiditas meliputi LDR ( Loan to Deposit Ratio ) dan GWM ( Giro Wajib Minimum ) . Selain itu profitabilitas perbankan dinilai dengan ROE ( Return On Equity ) dan ROA ( Return On Asset ) . ROA memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam kegiatan perusahaan , sedangkan ROE hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Siamat,2002) . ROA dinilai berdasarkan rasio antara laba sebelum pajak terhadap total asset . Penilaian ROA adalah semakin besar jumlah ROA akan menunjukan kinerja keuangan yang semakin baik , sehingga jumlah profitabilitas perusahaan pun akan meningkat . Sedangakn untuk analisis capital , semakin besar nilai suatu modal maka akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut . Dan disebutkan bahwa nilai CAR akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA . Dari aspek asset terdapat perhitungan NPL yang menunjukann kemampuan kolektibilitas sebuah bank dalam mengumpulkan kembali redit yang dikeluarkan oleh bank sampai lunas . NPL dihitung berdasarkan jumlah kredit bermasalah terhadap jumlah kredit yang dikeluarkan oleh bank . Apabila suatu bank memiliki NPL dengan jumlah tinggi maka akan memperbesar biaya . sehingga dapat diambil kesimpulan semakin tinggi nilai NPL maka akan menganggu jalannya kinerja bank .Selain itu , terdapat BOPO dan NIM dalam aspek earning . BOPO mengukur sejauh mana manajemen bank telah menggunakan semua faktor produksinya secara efektif dan efisien yang dinilai berdasarkn perbandingan antara biaya operasi dengan pendapatan operasi . NIM merupakan selisih pendapatan bunga dengan biaya bungan oleh karena itu besarnya NIM akan mempengaruhi laba-rugi Bank yang akhirnya mempengaruhi kinerja perusahaan terebut , Sedangkan dalam penilaian likuiditas bank , digunakan LDR , yaitu mengukur seberapa besar dana bank di lepaskan ke perkreditan , semakin tinggi LDR maka laba bank semakin meningkat , Berikut statistik kinerja BPR yang dinilai berdasarkan kelima aspek tersebut . Berikut ini merupakan link yang menunjukan tabel statisktik kinerja BPR di Indonesia bulan Februari Nasional .

Kinerja BPR Konvensional skala Nasional

Periode : Februari 2012

No.

Provinsi

CAR

LDR

BOPO

ROA

ROE

NPL

1

Sumatera Utara

19.97%

73.20%

91.76%

1.34%

11.16%

9.29%

2

Sulawesi Barat

23.13%

88.09%

63.57%

10.03%

73.93%

4.82%

3

Bali

15.67%

78.66%

81.04%

2.91%

39.08%

3.11%

4

Banten

31.23%

80.30%

81.27%

3.20%

10.10%

9.73%

5

Bengkulu

41.52%

87.90%

65.36%

10.68%

44.29%

3.10%

6

D.I Yogyakarta

19.22%

82.84%

86.21%

2.17%

20.08%

6.20%

7

Provinsi DKI Jakarta

20.79%

69.96%

90.25%

3.21%

35.64%

6.22%

8

Gorontalo

72.85%

71.33%

67.67%

9.50%

39.01%

13.84%

9

Irian Jaya Barat

15.35%

71.06%

42.51%

12.02%

650.27%

0.38%

10

Jambi

28.64%

74.72%

67.13%

6.46%

61.79%

4.52%

11

Jawa Barat

21.89%

75.54%

86.35%

2.76%

22.15%

6.81%

12

Jawa Tengah

21.78%

80.70%

80.81%

3.15%

29.10%

7.32%

13

Kalimantan Selatan

49.78%

57.74%

69.33%

4.44%

27.53%

4.54%

14

Kalimantan Tengah

39.23%

74.84%

59.66%

-0.06%

-0.32%

7.62%

15

Kalimantan Timur

36.92%

74.31%

95.91%

3.28%

16.14%

13.60%

16

Kep. Bangka Belitung

15.90%

61.40%

60.08%

8.78%

182.71%

3.86%

17

Kep. Riau

15.10%

69.25%

78.35%

3.33%

49.53%

2.34%

18

Lampung

32.13%

87.69%

61.33%

5.72%

48.82%

1.52%

19

Maluku

26.55%

97.52%

37.81%

12.76%

435.62%

1.36%

20

Maluku Utara

42.02%

74.67%

66.55%

8.51%

43.56%

2.72%

21

Nanggroe Aceh Darussalam

44.63%

88.83%

88.64%

2.70%

8.12%

7.48%

22

Nusa Tenggara Barat

41.74%

81.86%

76.89%

4.73%

24.44%

13.11%

23

Nusa Tenggara Timur

30.13%

76.22%

73.23%

8.99%

70.46%

4.25%

24

Papua

18.00%

91.67%

55.82%

8.24%

132.91%

1.68%

25

Riau

23.78%

68.15%

88.91%

1.85%

17.02%

9.63%

26

Sulawesi Selatan

24.42%

85.93%

70.39%

4.03%

60.26%

2.32%

27

Sulawesi Tengah

27.71%

88.97%

60.69%

9.38%

146.30%

1.83%

28

Jawa Timur

28.55%

80.18%

78.07%

4.27%

32.97%

4.39%

29

Kalimantan Barat

19.86%

65.51%

86.29%

1.43%

23.17%

3.36%

30

Sulawesi Tenggara

42.24%

82.09%

129.63%

-2.26%

-8.58%

15.79%

31

Sulawesi Utara

20.83%

77.58%

78.60%

3.82%

65.60%

4.15%

32

Sumatera Barat

18.49%

83.76%

90.50%

1.69%

13.76%

7.52%

33

Sumatera Selatan

35.51%

74.61%

71.94%

4.15%

36.90%

5.18%

Nasional

30.77%

79.47%

79.82%

3.54%

31.53%

5.57%

Sumber Tabel : http://www.bi.go.id


Dalam tulisan ini saya akan menggunakan sampel provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Irian Jaya Barat . Melihat tabel kinerja BPR tersebut , untuk provinsi DKI Jakarta , dapat dilihat bahwa jumlah ROA provinsi tersebut adalah 3,21 % , LDR sebesar 69,96% , NPL sebesar 6,22% , BOPO sebesar 90,25% , CAR sebesar 20,79% . Dapat diambil kesimpulan kinerja keuangan BPR di Provinsi DKI Jakarta belum terlalu efektif dan efisien , hal ini ditunjukan dengan nilai ROA yang kecil . Hal ini dipengaruhi oleh nilai BOPO yang sangat besar , BOPO merupakan penilaian seberapa besar pendapatan operasi digunakan untuk membiayai biaya operasi , maka nilai BOPO yang besar menunjukan bahwa BPR di jakarta belum dapat efisien dan efektif , hal ini berpengaruh negatif untuk ROA karena jika tidak efisien dalam menekan biaya , maka laba yang dihasilkan akan semakin sedikit . Ketidak efisiensian BPR di DKI Jakarta juga tercermin dari nilai LDR yang cukup tinggi , tetapi jumlah NPL juga semakin tinggi , hal ini menunjukan bahwa kredit yang diberikan oleh BPR banyak terdapat kredit bermasalah yang hasilnya akan mengurangi laba . Beda hal dengan Provinsi Irian Jaya Barat , BPR di provinsi Irian Jaya Barat dapat lebih berlaku efektif dan efisien , hal ini tercermin dari jumlah ROA yang tinggi yaitu 12,02% , yang tidak lain berasal dari nilai BOPO yang jauh lebih rendah dibanding dengan provinsi DKI Jakarta yaitu 42,51 % , hal ini membuktikan bahwa BPR di provinsi Irian Jaya Barat dapat lebih menekan biaya operasi sehingga laba yng dihasilkan akan besar . Selain itu nilai NPL yang kecil membuktikan bahwa jumlah kredit bermasalah sangat kecil , sehingga berpengaruh positif terhadap jumlah ROA . Ini membuktikan bahwa antara BPR di Provinsi Irian Jaya Barat lebih efisien dibandingkan dengan BPR di Provinsi DKI Jakarta .

Sumber :

http://www.bi.go.id

http://eprints.undip.ac.id/16854/1/BUDI_PONCO.pdf

0 komentar:

Posting Komentar

12 April 2012

ANTARA BPR JAKARTA DAN IRIAN JAYA BARAT


Antara BPR JAKARTA dan IRIAN

Melihat kehidupan perbankan di Indonesia , Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak Bank yang dibagi menjadi tiga jenis dalam pelaksanaanya . Pertama , yaitu Bank Konvesional yaitu merupakan Bank yang melakukan kegiatan perbankan secara umum. Kedua ,Bank Syariah , yaitu Bank yang dalam pelaksanaanya tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang dilakukan oleh Bank Konvesional namun Bank Syariah lebih menekankan syariat-syariat islam dalam transaksinya , dan tidak menghalalkan prinsip bunga bank yang dilakukan seperti Bank Konvesional . Namun , Bank Syariah lebih menekankan kepada sistem bagi hasil dalam transaksi perbankan yang dilakukannya . Kemudian yang terakhir yaitu Bank Perkreditan Rakyat atau yang disingkat menjadi BPR . BPR merupakan bank yang dikhususkan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan transaksi pemberian kredit , dan biasanya BPR banyak ditemui di daerah-daerah dibanding di perkotaan .Sebab , belum banyaknya jumlah bank konvesional yang menjamah pedesaan . Dalam kegiatannya , semua bank akan selalu berorientasi memberikan yang terbaik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank-bank tersebut . Oleh karena itu , dibutuhkan suatu penilaian terhadap kinerja keuangan bank-bank tersebut apakah bank tersebut dapat digolongkan sebagai bank dalam kondisi yang sehat atau tidak . Dalam analisis kali ini , saya menggunakan statistik kinerja BPR untuk menilai kondisi keadaan bank tersebut dan mengambil sampel 2 provinsi yang berbeda yaitu DKI Jakarta sebagai ibukota provinsi dan Provinsi Irian Jaya Barat . Dalam menganalisis kinerja keuangan dibutuhkan laporan keuangan yang akan dinilai dalam lima aspek penilain yaitu CAMEL ( Capital , Assers , Management , Earning dan Liquidty ) , dimana aspek capital meliputi perhitungan CAR ( Capital Adequacy Ratio ) , aspek asset meliputi NPL ( Non Performing Loan ), aspek earning meliputi NIM ( Net Interest Margin ) dan BOPO ( Biaya Operasional dibandingkan Pendapatan Operasional ) ,sedangakn aspek likuiditas meliputi LDR ( Loan to Deposit Ratio ) dan GWM ( Giro Wajib Minimum ) . Selain itu profitabilitas perbankan dinilai dengan ROE ( Return On Equity ) dan ROA ( Return On Asset ) . ROA memfokuskan kemampuan perusahaan untuk memperoleh earning dalam kegiatan perusahaan , sedangkan ROE hanya mengukur return yang diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Siamat,2002) . ROA dinilai berdasarkan rasio antara laba sebelum pajak terhadap total asset . Penilaian ROA adalah semakin besar jumlah ROA akan menunjukan kinerja keuangan yang semakin baik , sehingga jumlah profitabilitas perusahaan pun akan meningkat . Sedangakn untuk analisis capital , semakin besar nilai suatu modal maka akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut . Dan disebutkan bahwa nilai CAR akan berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA . Dari aspek asset terdapat perhitungan NPL yang menunjukann kemampuan kolektibilitas sebuah bank dalam mengumpulkan kembali redit yang dikeluarkan oleh bank sampai lunas . NPL dihitung berdasarkan jumlah kredit bermasalah terhadap jumlah kredit yang dikeluarkan oleh bank . Apabila suatu bank memiliki NPL dengan jumlah tinggi maka akan memperbesar biaya . sehingga dapat diambil kesimpulan semakin tinggi nilai NPL maka akan menganggu jalannya kinerja bank .Selain itu , terdapat BOPO dan NIM dalam aspek earning . BOPO mengukur sejauh mana manajemen bank telah menggunakan semua faktor produksinya secara efektif dan efisien yang dinilai berdasarkn perbandingan antara biaya operasi dengan pendapatan operasi . NIM merupakan selisih pendapatan bunga dengan biaya bungan oleh karena itu besarnya NIM akan mempengaruhi laba-rugi Bank yang akhirnya mempengaruhi kinerja perusahaan terebut , Sedangkan dalam penilaian likuiditas bank , digunakan LDR , yaitu mengukur seberapa besar dana bank di lepaskan ke perkreditan , semakin tinggi LDR maka laba bank semakin meningkat , Berikut statistik kinerja BPR yang dinilai berdasarkan kelima aspek tersebut . Berikut ini merupakan link yang menunjukan tabel statisktik kinerja BPR di Indonesia bulan Februari Nasional .

Kinerja BPR Konvensional skala Nasional

Periode : Februari 2012

No.

Provinsi

CAR

LDR

BOPO

ROA

ROE

NPL

1

Sumatera Utara

19.97%

73.20%

91.76%

1.34%

11.16%

9.29%

2

Sulawesi Barat

23.13%

88.09%

63.57%

10.03%

73.93%

4.82%

3

Bali

15.67%

78.66%

81.04%

2.91%

39.08%

3.11%

4

Banten

31.23%

80.30%

81.27%

3.20%

10.10%

9.73%

5

Bengkulu

41.52%

87.90%

65.36%

10.68%

44.29%

3.10%

6

D.I Yogyakarta

19.22%

82.84%

86.21%

2.17%

20.08%

6.20%

7

Provinsi DKI Jakarta

20.79%

69.96%

90.25%

3.21%

35.64%

6.22%

8

Gorontalo

72.85%

71.33%

67.67%

9.50%

39.01%

13.84%

9

Irian Jaya Barat

15.35%

71.06%

42.51%

12.02%

650.27%

0.38%

10

Jambi

28.64%

74.72%

67.13%

6.46%

61.79%

4.52%

11

Jawa Barat

21.89%

75.54%

86.35%

2.76%

22.15%

6.81%

12

Jawa Tengah

21.78%

80.70%

80.81%

3.15%

29.10%

7.32%

13

Kalimantan Selatan

49.78%

57.74%

69.33%

4.44%

27.53%

4.54%

14

Kalimantan Tengah

39.23%

74.84%

59.66%

-0.06%

-0.32%

7.62%

15

Kalimantan Timur

36.92%

74.31%

95.91%

3.28%

16.14%

13.60%

16

Kep. Bangka Belitung

15.90%

61.40%

60.08%

8.78%

182.71%

3.86%

17

Kep. Riau

15.10%

69.25%

78.35%

3.33%

49.53%

2.34%

18

Lampung

32.13%

87.69%

61.33%

5.72%

48.82%

1.52%

19

Maluku

26.55%

97.52%

37.81%

12.76%

435.62%

1.36%

20

Maluku Utara

42.02%

74.67%

66.55%

8.51%

43.56%

2.72%

21

Nanggroe Aceh Darussalam

44.63%

88.83%

88.64%

2.70%

8.12%

7.48%

22

Nusa Tenggara Barat

41.74%

81.86%

76.89%

4.73%

24.44%

13.11%

23

Nusa Tenggara Timur

30.13%

76.22%

73.23%

8.99%

70.46%

4.25%

24

Papua

18.00%

91.67%

55.82%

8.24%

132.91%

1.68%

25

Riau

23.78%

68.15%

88.91%

1.85%

17.02%

9.63%

26

Sulawesi Selatan

24.42%

85.93%

70.39%

4.03%

60.26%

2.32%

27

Sulawesi Tengah

27.71%

88.97%

60.69%

9.38%

146.30%

1.83%

28

Jawa Timur

28.55%

80.18%

78.07%

4.27%

32.97%

4.39%

29

Kalimantan Barat

19.86%

65.51%

86.29%

1.43%

23.17%

3.36%

30

Sulawesi Tenggara

42.24%

82.09%

129.63%

-2.26%

-8.58%

15.79%

31

Sulawesi Utara

20.83%

77.58%

78.60%

3.82%

65.60%

4.15%

32

Sumatera Barat

18.49%

83.76%

90.50%

1.69%

13.76%

7.52%

33

Sumatera Selatan

35.51%

74.61%

71.94%

4.15%

36.90%

5.18%

Nasional

30.77%

79.47%

79.82%

3.54%

31.53%

5.57%

Sumber Tabel : http://www.bi.go.id


Dalam tulisan ini saya akan menggunakan sampel provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Irian Jaya Barat . Melihat tabel kinerja BPR tersebut , untuk provinsi DKI Jakarta , dapat dilihat bahwa jumlah ROA provinsi tersebut adalah 3,21 % , LDR sebesar 69,96% , NPL sebesar 6,22% , BOPO sebesar 90,25% , CAR sebesar 20,79% . Dapat diambil kesimpulan kinerja keuangan BPR di Provinsi DKI Jakarta belum terlalu efektif dan efisien , hal ini ditunjukan dengan nilai ROA yang kecil . Hal ini dipengaruhi oleh nilai BOPO yang sangat besar , BOPO merupakan penilaian seberapa besar pendapatan operasi digunakan untuk membiayai biaya operasi , maka nilai BOPO yang besar menunjukan bahwa BPR di jakarta belum dapat efisien dan efektif , hal ini berpengaruh negatif untuk ROA karena jika tidak efisien dalam menekan biaya , maka laba yang dihasilkan akan semakin sedikit . Ketidak efisiensian BPR di DKI Jakarta juga tercermin dari nilai LDR yang cukup tinggi , tetapi jumlah NPL juga semakin tinggi , hal ini menunjukan bahwa kredit yang diberikan oleh BPR banyak terdapat kredit bermasalah yang hasilnya akan mengurangi laba . Beda hal dengan Provinsi Irian Jaya Barat , BPR di provinsi Irian Jaya Barat dapat lebih berlaku efektif dan efisien , hal ini tercermin dari jumlah ROA yang tinggi yaitu 12,02% , yang tidak lain berasal dari nilai BOPO yang jauh lebih rendah dibanding dengan provinsi DKI Jakarta yaitu 42,51 % , hal ini membuktikan bahwa BPR di provinsi Irian Jaya Barat dapat lebih menekan biaya operasi sehingga laba yng dihasilkan akan besar . Selain itu nilai NPL yang kecil membuktikan bahwa jumlah kredit bermasalah sangat kecil , sehingga berpengaruh positif terhadap jumlah ROA . Ini membuktikan bahwa antara BPR di Provinsi Irian Jaya Barat lebih efisien dibandingkan dengan BPR di Provinsi DKI Jakarta .

Sumber :

http://www.bi.go.id

http://eprints.undip.ac.id/16854/1/BUDI_PONCO.pdf

0 komentar on "ANTARA BPR JAKARTA DAN IRIAN JAYA BARAT"

Posting Komentar

 

dyaluppha , , Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea


Smashed Pink Can