3 Maret 2012

Diposting oleh Widya_Mauretya di 21.36 0 komentar


Providing Competitiveness Assessment Model for State and
Private Banks of Iran

H.E. Givi, A. Ebrahimi, M.B. Nasrabadi and H. Safari
Department of Management, Imam Sadiq University, Tehran, Iran
IDepartment of Management, Tehran University, Tehran, Iran

RINGKASAN JURNAL

Dalam dunia perekonomian , khususnya perbankan dibutuhkan suatu model sistematis untuk mengukur kemampuan bank untuk berkompetitif . Model sistematis ini digunakan untuk membantu Bank untuk mengerti status mereka saat ini untuk melakukan perencanaan masa depan . Dan dalam suatu model sistematis tersebut digunakan beberapa variable yang mempengaruhi daya saing bank untuk berkompetitif . Dan dalam penelitian yang digunakan untuk mengatuhi daya saing bank di Iran ini digunakan variabel kekuatan keuangan , pangsa pasar , modal manusia , pertukaran kegiatan internasional , dan penggunaan teknologi . Masing – masing variabel dapat dihitung melalui indeks . Dan selanjutnya hasil dari model ini digunakan untuk pengukuran daya saing Bank . Hasil dari model ini dilihat dari indeks masing – masing variabel , dan berdasarkan indeks penelitian untuk kompetitif bank , terlihat hasil bahwa Bank milik Negara berada pada urutan pertama . Bank – bank milik Negara ini telah mengungguli bank lain dalam berbagai indikator yang dipelajari dalam penelitian ini , terutama dari indeks kekuatan financial yang mempunyai dampak besar pada daya saing bank . Bank yang memiliki peringkat pertama ini telah mengungguli dalam hal asset dan ekuitas dibandingkan dengan bank lainnya.Namun hal lain mengatakan bahwa Bank milik Negara di Iran dapat berada di posisi pertama karena bank tersebut terkait dengan pemerintah . Selain itu selain kekuatan financial , pangsa pasar juga mempunyai kekuatan penting dalam mendukung daya saing bank tersebut . Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa daya saing Bank ditentukan oleh seberapa besar kekuatan financial yang dimiliki oleh bank tersebut dan seberapa banyak pangsa pasar yang dapat mereka kuasai . Oleh karena itu untuk dapat mengungguli perusahaan lain , suatu perusahaan harus memperkuat kekuatan financial perusahaan mereka , serta menguasai pangsa pasar lebih banyak dibanding perusahaan lain . Maka dari itu Bank swasta di Iran harus meningkatkan kemampuan mereka dalam dimensi pangsa pasar dan kegiatan Internasional . Mereka juga harus mempertimbangkan indeks kegemaran dalam dua dimensi untuk mengembangkan rencana yang diperlukan untuk meningkatkan kompettif . Lain daripada hal itu , Bank umum milik pemerintah harus lebih fokus pada kekuatan financial dan dimensi dari kegiatan internasional untuk mempertahankan posisi mereka saat ini .


Variabel dalam penentuan daya saing

18 Februari 2012

Perilaku Ekonomi Mempengaruhi Elastisitas

Diposting oleh Widya_Mauretya di 01.25 0 komentar

Berbicara mengenai perilaku ekonomi, seolah tidak akan ada habisnya . Karena ekonomi merupakan suatu tolak ukur perkembangan manusia . Hal inti dari setiap kegiatan ekonomi adalah berbicara mengenai harga ( p ) dan jumlah barang ( q ) baik yang diminta ataupun yang ditawarkan . Oleh karena itu , pengaruh antara perubahan harga dengan jumlah barang yang diminta diukur dengan sesuatu yang dinamakan elastisitas . Elastisitas bukan merupakan hal yang baru dalam perekonomian . Tolak ukur elastisitas sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi, sebab elastis maupun inelastis pengaruh harga terhadap jumlah barang yang diminta akan berperan penting dalam kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya . Banyak pelaku ekonom yang mengukur perkembangan usaha mereka dengan menggunakan elastisitas . Selain itu banyak kasus mengenai perekonomian yang mempengaruhi tingkat elastisitas ,berikut esensi beberapa kasus tersebut :

· “Secara umum, kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut.” Ini merupakan contoh bahwa kenaikan BBM yang diiringi dengan subsidi pemerintah akan membuat tingkat elastisitas menjadi inelastis , karena perubahan harga BBM tidak akan mengubah permintaan terhadap BBM menjadi berkurang atau bertambah , hal ini didorong dengan tidak adanya barang komplementer ataupun barang subtitusi dari BBM .

· “Di tahun 2011 ada permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa. Karena di sana mulai diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan karena bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0. Nilai elastisitas yang mendekati 0 ini disebabkan oleh adanya pemakaian air yang tidak terkontrol di masyarakat sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Akibatnya di USA diadakan penelitian untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut. Metode yang digunakan antara lain metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun dalam kenyataannya dari kedua metode ini kita tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dsb.” Dalam hal ini , elastisitas mengalami kesenjangan akibat dari ketidak sesuaian antara permintaan dengan harga yang ditentukan . Tingkat suatu elastisitas cenderung akan mengalami kesenjangan karena banyaknya faktor , seperti contoh diatas untuk mengatasi kesenjangan dari elastisitas tersebut digunakan banyak cara , sebab kesesuaian elastisitas sangat diharapkan dalam setiap kegiatan ekonomi .

· “Semakin berkurangnya pajak yang diterima oleh pemerintah juga semakin memperburuk kekurangannya. Dengan kurangnya pajak yang diterima pemerintah membuat pemerintah kurang mampu membiayai aggaran pengeluarannya tapi memiliki sisi positif pada kesejahteraan dalam negeri dan konsumsi rumah tangga meningkat. Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang buruk itu, sektor pariwisata bisa menjadi solusinya. Seperti yang telah dijelaskan dijurnal bahwa kenaikan permintaan pariwisata asing akan membuat produksi yang lebih dan penyerapan tenaga kerja domestic meningkat.

Dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi didalam kasus ini maka dapat disimpulkan bahwa ini bersifat elastis.Untuk mencegah terjadinya inelastis maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.”Tidak berbeda jauh dengan kasus – kasus sebelumnya , dalam kasus ini hubungan antara harga dengan permintaan bersifat elastis sebab , menurunnya harga seiring dengan jumlah permintaanya . Namun hubungan antara harga dan permintaan bisa saja terjadi inelastis sebab perubahn harga tidak seiring berubahnya jumlah permintaan . Oleh karena itu dalam kasus ini untuk menghindari inelastis , pemerintah membuat kebijakan untuk menaikan harga dan menurunkan tariff pajak . Hal ini akan berdampak dengan meningkatnya income sehingga akan mempengaruhi jumlah permintaan konsumen .

· “Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan karena dengan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat standar hidup masyarakat asia pada kala itu rendah, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.” Dalam permintaan Asuransi , elastisitas juga merupakan suatu tolak ukur perkembangan dan jumlah permintaan asuransi sebelum dan sesudah krisis ekonomi . Kasus ini membuktikan bahwa perubahan harga tidak akan selalu mempengaruhi jumlah permintaan . Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor pendukung . Oleh sebab itu untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan beberapa hal untuk mengatasi inelastisitas . Karena seperti yang diketahui bahwa inelastisitas suatu hubungan antara harga dengan permintaan akan berdampak kurang baik untuk kemajuan suatu kegiatan perekonomian .

· “Jika ditelaah lebih jauh, iklan dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang. Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar. Kesimpulannya, iklan yang dapat menarik konsumen akan menurunkan sensitivitas harga.” Iklan merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kegiatan perekonomian ,karena iklan memegang peranan penting dalam jumlah permintaan konsumen . Oleh karena iklan mempengaruhi harga dan jumlah permintaan maka secara otomatis iklan juga akan mempengarui tingkat elastisitas . Ada 3 kondisi iklan yang akan mempengaruhi harga dan sensitivitas harga , yaitu :

1 .Peningkatan harga iklan akan mengakibatkan harga menjadi tinggi .Maksud dari hal ini adalah secara otomatis jika dana yang digunakan dalam pembuatan iklan tinggi , maka harga yang ditentukan oleh suatu barang juga akan ikut meningkat .

2 .Penggunaan iklan harga mengarah ke harga yang lebih rendah .Maksud dari hal ini adalah bahwa iklan yang menyantumkan harga di iklannya cenderung akan mencantumkan harga yang lebih rendah .

3. Peningkatan iklan non harga menyebabkan sensitivitas harga yang lebih rendah .

Maksud dari hal ini adalah jika iklan tidak menyantumkan harga maka akan berpengaruh terhadap menurunnya sensitivitas konsumen untuk membeli barang tersebut . sensitivitas harga konsumen mempunyai pengertian sebagai keinginan seimbang antara atribut produk dan harga yang akan dibayar oleh konsumen , dengan adanya sensitivitas harga , maka konsumen akan membeli produk dengan membandingkan antara nilai dan manfaat yang akan diterima dengan mencari alternative harga yang terbaik yang akan memaksimalkan nilai yang akan diterimannya .

Dari ketiga hal tersebut , dapat terlihat jelas bahwa hal – hal tersebut akan mempengaruhi elastisitas . Jika dilihat dari kasus yang telah disebutkan diatas , bahwa dapat disimpulkan bahwa elastisitas peningkatan harga akan menurunkan elastisitas jumlah barang yang diminta , karena adanya barang subtitusi ( pengganti ) . Namun jika barang tersebut tidak mempunyai barang subtitusi ataupun komplementer maka perubahan harga yang semakin tinggi tidak selalu menjadikan elastisitas permintaan menjadi semakin rendah .

· “Dengan adanya internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Pajak yang lebih tinggi menyebabkan penyelundupan lebih besar dan jumlah penyelundupan tambahan telah tumbuh secara signifikan dengan munculnya Internet. Karena setelah di teliti jumlah penyelundupan yang timbul dari perubahan tarif pajak negara hampir dua kali lipat karena munculnya internet. Maka dapat disimpukan bahwa pajak rokok tidak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Dengan adanya internet juga membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.“Kasus ini membahas mengenai dampak internet terhadap elastisitas suatu permintaan . Negara Amerika Serikat telah mencoba beberapa cara untuk mengurangi tingkat permintaan rokok , sebab rokok merupakan salah satu masalah besar dalam hal kesehatan di Negara tersebut . Oleh karena hal itu , Amerika Serikat mencoba untuk mengurangi pembelian rokok dengan meningkatkan pajak menjadi 33 % , dengan harapan bahwa jumlah permintaan rokok akan berkurang . Namun seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat , warga Amerika dapat membeli rokok menggunakan internet ke Negara lain , oleh sebab itu meningkatnya harga rokok di Negara Amerika Serikat tidak akan mengurangi jumlah permintaan meskipun pembelian terhadap rokok tidak dilakukan di dalam Negeri . Oleh karena itu peningkatan pajak , belum tentu dapat mengurangi jumlah permintaan , dan seharusnya dicari solusi lain untuk mengatasi hal ini .

· Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Dalam menyelesaikan hal ini, peneliti berusaha menghubungkan pemberlakuan pajak dan subsidi untuk menganalisis dampaknya terhadap harga bahan makanan. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik. Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.“ Dalam kasus ini dikatakan bahwa pemberian subsidi terhadap buah dan sayur tidak meningkatkan permintaan secara signifikan , Oleh karena itu penurunan harga tidak mempengaruhi jumlah permintaan , hal ini bukan saja karena adanya barang subsitusi ataupun barang komplementer , tetapi gaya hidup juga mempengaruhi jumlah permintaan . Oleh karena itu elastisitas suatu permintaan disini juga dapat dipengaruhi oleh pengaruh gaya hidup .

Dari sejumlah kasus diatas dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa berbagai keadaan dan perilaku ekonomi dapat mempengaruhi tingkat elastisitas . Tingkat elastisitas yang baik adalah jika hubungan antara harga ( p ) dengan jumlah barang yang diminta ( q )adalah elastis . Maksudnya penurunan harga seharusnya akan meningkatkan jumlah barang yang diminta secara signifikan . Namun berbagai kondisi dapat mempengaruhi hal tersebut , diantaranya kenaikan harga , tidak selalu mempengaruhi jumlah permintaan hal ini dikarenakan adanya barang subtitusi maupun barang komplementer . Namun jika tidak ada barang subtitusi ataupun barang komplementer , maka peningkatan harga tidak selalu menurunkan jumlah permintaan . Selain itu penurunan harga juga tidak selalu mempengaruhi jumlah permintaan semakin banyak . Hal ini didukung dengan banyaknya faktor pendukung . Selain itu penurunan harga yang didukung dengan adanya subsidi juga tidak mendorong jumlah permintaan menjadi lebi signifikan , hal ini terjadi adanya gaya hidup , oleh karena itu elastisitas juga dapat dipengaruhi oleh gaya hidup . Dan perkembangan internet dan pengaruh iklan pun juga merupakan salah satu perkembangan dalam ekonomi yang mempengaruhi tingkat elastisitas harga dan permintaan .

3 Februari 2012

The Best Technology to Fixed a Firm

Diposting oleh Widya_Mauretya di 05.19 0 komentar

Berbicara mengenai bisnis , pasti kita akan tertuju dengan permasalahan seberapa besar jumlah yang diproduksi dan seberapa besar profit atau keuntungan yang dihasilkan . Jawaban untuk pertanyaan ini adalah tergantung efisiensi yang dilakukan oleh masing – masing perusahaan . Efisiensi adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki dan bisa menghasilkan produksi yang semaksimal mungkin . Efisiensi sangat tergantung dalam pengelolaan produksi . Jika pengelolaan tidak berjalan dengan baik maka suatu perusahaan dapat dikatakan tidak efisiensi dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki . Hal itu merupakan salah satu pemicu terjadinya ketidak efisiensi suatu perusahaan . Banyak hal yang dapat mendorong ketidak efisiensian suatu perusahaan antara lain , kurangnya kontrol terhadap jalannya perusahaan . Pengendalian atau kontrol terhadap perusahaan merupakan salah satu aspek penting dalam perusahaan , karena hal ini sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan suatu perusahaan . Efisiensi suatu perusahaan saat ini bukanlah seberapa banyak perusahaan tersebut memperkerjakan karyawan . Karena karyawan merupakan manusia yang mempunyai titik kelemahan dan tidak mampu beroperasi dalam jam kerja yang panjang . Oleh karena itu fungsi manusia pada saat ini telah banyak tergantikan oleh kemajuan teknologi . Pertanyaan mengenai what the best technology to fixed a firm ? adalah salah satu pertanyaan yang membahas mengenai tingkat efisiensi suatu perusahaan , sehingga dapat memperbaiki infrastruktur perusahaan . Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah terletak sampai dimana teknologi tersebut dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan seberapa besar profit yang dihasikan oleh pemakaian teknologi tersebut . Teknologi terbaik adalah teknologi yang mampu memberikan hal yang maksimal . Saat ini perkembangan teknologi yang banyak digunakan oleh perusahaan adalah mesin – mesin yang dapat mengurangi jumlah tenaga kerja . Pemakaian mesin tersebut telah membuat terjadinya pengurangan tenaga kerja . Tetapi jumlah produksi yang dihasilkan akan lebih banyak dan pemakaian sumber daya pun dapat digunakan semaksimal mungkin . Untuk lebih memahami bagaimana penggunaan teknologi dapat mempengaruhi jumlah produksi dan kaitannya dengan efisiensi maka dibawah ini merupakan tabel produksi suatu perusahaan .


Diatas merupakan tabel produksi suatu perusahaan . Jika pada tabel pertama merupakan tabel produksi yang masih mengandalkan jumlah tenaga kerja maka dapat disimpulkan bahwa produksi akan bertambah seiring bertambahnya jumlah tenaga kerja . Hal ini mempunyai banyak kekurangan diantaranya yaitu , semakin banyak jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan semakin banyak juga pengeluaran untuk gaji yang dikeluarkan . Terkadang kinerja mereka tidak dapat menghasilkan produksi yang maksimal . Oleh karena itu saat ini mulai banyak perusahaan yang menggantikan cara kerja manusia dengan cara kerja mesin . Perbedaan antara kemampuan manusia dengan kemampuan mesin sangat terliha jika perusahaan mulai menggunakan mesin dalam hal produksi maka jumlah karyawan yang diperkerjakan pun dikurangi . Dan produksi yang dihasilkan dapat lebih maksimal . Sehingga semakin banyak tenaga manusia yang tergantikan oleh kinerja mesin maka semakin banyak juga hasil yang dapat diproduksi . Tetapi bukan berarti tenaga manusia tidak diperlukan lagi , tenaga manusia tetap diperlukan untuk mengontrol kegiatan mesin-mesin tersebut . Selain perkembangan teknologi berupa mesin , teknologi Internet juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup perusahaan . Internet merupakan sarana umum yang saat ini perkembangannya mulai pesat . Hampir setiap orang di dunia ini mengenal istilah Internet . Dalam perekonomian Internet merupakan salah satu sarana untuk memperkenalkan bisnisnya . Dengan internet orang akan lebih mudah untuk mengakses ataupun melakukan transaksi jual beli tanpa harus bertatap muka langsung . Berikut grafik yang menunjukan berbagai aktivitas internet :

Melihat grafik tersebut , sebagian besar kegiatan perekonomian berjalan di antara aktivitas – aktivitas tersebut . Oleh karena itu internet merupakan salah satu teknologi yang sangat dapat diandalkan untuk memajukan perusahaan . Terdapat perbedaan terhadap perusahaan yang tidak mengenal internet dan perusahaan yang memanfaatkan Internet sebagai sarana bisnisnya . Lalu apa hubungannya antara efisiensi dengan perkembangan teknologi ? perkembangan teknologi telah membuat produksi lebih meningkat tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan pengeluaran .



26 Januari 2012

Analisis Jurnal

Diposting oleh Widya_Mauretya di 05.00 0 komentar

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN ANALISIS SENSITIVITAS

USAHA TERNAK SAPI PERAH MENURUT POLA PENGUSAHAAN

DI JAWA BARAT

Benny Rachman

Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian

Jalan A.Yani 70, P.O Box 200 , Bogor 16111 , Indonesia

1997

TEMA / TOPIK PENELITIAN

Pengaruh efesiensi pemanfaatan sumber daya usaha ternak sapi terhadap keunggulan komparatif

JUDUL PENELITIAN

Keunggulan komparatif dan analisis sensitivitas usaha ternak sapi perah menurut pola pengusaha di Jawa Barat

LATAR BELAKANG PENELITIAN

I.Fenomena

Sebagai salah satu program sektoral , usaha ternak sapi perah dipandnang kondusif bila dikaitkan dengan kendala sumber daya dan alokasi dana yang terbatas . Dengan terciptanya iklim usaha yang kondusif tentunyadapat memberi peluang adanya peningkatan pendapatan , khususnya peternak , serta peluamg investasi dan perluasan usaha . Oleh karena peluang usaha yang prospektif maka perlu dilakukan efisiensi agar dapat menelaah kelayakan usaha sapi perah dari berbagai pola rekomendasi pengembangan , ditinjau dari segi efesiensi pemanfaatan sumberdaya domestic melalui alat analisis BSD (biaya sumber – daya domestik) .

II . Motivasi penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk menelaah kelayakan usaha sapi perah dari berbagai pola rekomendasi pengembangan , ditinjau dari segi efesiensi pemanfaatan sumber daya domestic melalui alat analisis BSD (biaya sumber – daya domestik

HIPOTESIS PENELITIAN

1 . Apakah pola yang diajukan cenderung menguntungkan untuk peternakan sapi perah ?

2 . Apakah efisiensi terhadap sumber daya mempengaruhi keunggulan komparatif ?

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efisiensi sumber daya domestik dalam menelaah kelayakan usaha sapi perah dari berbagai pola rekomendasi pengembangan melalui analisis BSD (biaya sumber –daya domestik) .

METODOLOGI PENELITIAN

1 . Data

Dalam penelitian ini dipergunakan tiga gugus data yaitu 1. Data input – output usaha ni susu sapi perah , 2 . data input yang dapat diuraikan ke dalam komponen domestik dan asing dari input usaha tani , dan 3 . data ekonomik untuk perkiraan harga bayangan input dan output usaha tani susu sapi perah yang dianalisis

2 . Variabel

Dalam penelitian kali ini dibutukan alat analisis yang berupa BSD ( biaya sumber domestik ) . BSD sendiri dapat didefinisikan sebagai ukuran biaya peluang social ( social opportunity cost ) dari penerimaan suatu unit marginal bersih devisa diukur dalam bentuk faktor – faktor produksi domestik yang digunakan , baik langsung maupun tidak langsung dalam suatu aktivitas ekonomi . Penentuan BSD dapat diawali dari konsep NSP ( net social profitability ) , yang dirumuskan oleh PEARSON , 1976 sebagai berikut :




Dari persamaan 3 , terlihat harga bayangan nilai tukar uang sama dengan biaya sosial input domestik ditambah eksternalitas dibagi dengan total penerimaan sosial dikurangi dengan biaya sosial komponen inpu asing . Dengan demikian bentuk BSD menjadi :

Dari persamaan 4 terlihat bahwa BSD merupakan besarnya biaya sumber daya domestik yang dikeluarkan untuk memperoleh atau menghematnilai tambah satu satuan devisa . Satuan dari BSD adalah Rp/US $ . Keunggulan komparatif suatu komoditas untuk diekspor diukur melalui rasio biaya sumberdaya domestik (RBSD ),yaitu rasio antara BSD dan harga bayangan nilai berukar (V) sebagai berikut :

HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

Penerapan analisis ini diarahkan untuk menelaah efisiensi ekonomi usaha sapi perah ditinjau dariefisiensi pemanfaatan sumberdaya domestik dalam Upaya menghemat satu-satuan devisa. Kajian ini dilengkapi pula dengan analisis sensitivitas pada tingkat harga dan produksi yang berlainan.


Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tingkat produksi yang dicapai saat ini oleh PK (3.800 Itr/ut/tahun), PRK (4.422 ltr/ut/tahun) dan PP (4.270 ltr/ut/tahun), dan tingkat harga di pasar internasional sebesar Rp 375 per liter cukup menjamin adanya efisiensi pemanfaatan sumberdaya domestik dalam usaha sapi perah. Berbeda halnya untuk tingkat harga di bawah Rp375 per liter, pada semua pola belum memberikan kelayakan ekonomis. Kenyataan ini diindikasikan oleh nilai koefisien BSD yang lebih besar dari satu (> 1,0), atau dengan pengertian lain pemanfaatan sumberdaya domestik dalam usaha sapi perah tidak menguntungkan, dan sebaliknya lebih menguntungkan apabila melakukan impor susu dari luar negeri Dari studi yang dilakukan KASRYNO, (1990) dengan membedakan tiga regim perdagangan, yaitu perdagangan antar wilayah (IR), substitusi impor (IS) dan promosi ekspor (EP) diperoleh informasi bahwa secara umum kondisi persusuan di Indonesia tidak efisien. Hal ini didasarkan atas perhitungannya terhadap nilai rasio biaya sumberdaya domestik (RBSD) dari ketiga regim (pola perusahaan kelompok) masing- masing sebesar 2,20 ; 2,88 clan 2,85, sedangkan untuk pola petemakan rakyat memperlihatkan kinerja yang hampir sama, yaitu 2,90 (IR), 2,40 (IS) dan 2,36 (EP). Hal lain yang menarik dari temuan ini adalah pemanfaatan bibit sapi silang relatif lebih efisien dibandingkan dengan bibit sapi impor, seperti diindikasikan oleh rataan nilai RBSD yang lebih rendah (1,52 vs 2,9). Dasar pertimbangan dari penelitian diatas, agaknya masih terlalu lemah untuk digeneralisasikan secara nasional, mengingat usaha pengembangan sapi perah menuntut kesesuaian lokasi yang spesifik,sehingga seyogianya dalam menelaah tingkat efisiensi . pemanfaatan sumberdaya domestik dari usaha susu sapi perah perlu mengacu pada pengklasifikasian wilayah yang dipandang memiliki kesesuaian agro-khmat dalam pengembangannya. Dalam konteks mikro pengembangan ternak sapi perah yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sumberdaya alam, produksi, dan perbaikan tingkat kesejahteraan dipandang strategis bila dikaitkan dengan kendala sumberdaya dan alokasi dana yang terbatas. Program ini relatif tidak bensandar pada basis penggunaan lahan yang luas, serta cukup dapat mendukung upaya pendistribusian pendapatan, khususnya bagi masyarakat petani kecil. Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa kebijaksanaan secara makro tentunya tidak dapat sepenuhnya relevan diterapkan dalam konteks mikro. Hal ini tercermin pula dari kinerja makro usaha persusuan yang secara ekonomi kurang efisien dikembangkan, namun berbeda halnya apabila pengembangannya ditelaah dalam konteks mikro yang memperlihatkan kinerja yang bervariasi. Dari tinjauan penelitian yang dilakukan IRAWAN dan RuSASTRA, (1990) di wilayah Jawa Tengah terhadap petemak perusahaan dan peternak rakyat tersimpul bahwa kedua pola tersebut tidak efisien dalam alokasi sumberdaya. Hal ini dicirikan dari angka RBSD yang tergolong tinggi, yaitu 2,8 dan 2,4 . Hasil analisis dari penelitian ini tidak terlepas dari teknik peng-ambilan contoh yang cenderung kurang mempertimbangkan skala pemilikannya, serta jumlah sampel peternak yang relatif kecil, yakni 21 peternak. Kondisi ini sudah barang tentu belum mencerminkan karakteristik yang sebenarnya dari profil petemak sapi perah di Jawa Tengah.

KESIMPULAN

Pada tingkat produksi yang dicapai saat ini , ketiga pola tersebut cukup memberikan jaminan keunggulan komparatif . Hal ini didasarkan karena nilai koefisien BSD yang lebih kecil dari 1 . Atau dengan pengertian lain , dengan jumlah produksi yang dicapai saat ini , serta tingkat harga pasar dunia sebesar Rp 375 / liter cukup menjamin efisiensi pemanfaatan sumber daya domestik . Jadi penilaian efisiensi susu sapi perah akan bertolak terhadap harga susu sapi perah pada tingkat dunia. Usaha susu sapi perah domestik , khususnya pola perusahaan kelompok (PPK) diperkirakan akan semakin efisien dan layak secara ekonomi apabila harga susu internasional meningkat . Hal ini cukup mempunyai alasan sebab jika dibandingkan dengan PRK dan PK . Sehingga memungkinkan bahwa pemenuhan kebutuhan susu dalam negeri melalui pengembangan pola perusahaan kelompok relative akan menguntungkan .

SARAN

Berdasarkan analisis dan data – data diatas maka seharusnya para usaha susu sapi ternak lebih dapat mengefisiensikan sumber daya . Hal ini dapat dilakukan dengan dengan menggunakan pola perusahaan kelompok , karena pola perusahaan kelompok lebih menjamin efisien dibanding dengan PRK dan PK . Dan seharusnya susu sapi perah di Indonesia harus lebih bisa memiliki keuntungan komparatif dibanding produksi susu sapi perah di Negara lain .


Relasi antara Biaya (cost) terhadap Produksi dan Konsumsi

Diposting oleh Widya_Mauretya di 04.53 1 komentar

Dalam kegiatan perekonomian mikro kegiatan produksi dan konsumsi merupakan salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan . Sebab , produksi dan konsumsi merupakan inti dari sebuah kegiatan perekonomian . Kegiatan perekonomian akan terhenti jika kegiatan produksi dan konsumsi tidak berjalan dengan baik . Dalam kaitannya dengan produksi dan konsumsi , konsumen dan produsen merupakan tokoh penting dalam kegiatan ini . Proses interaksi yang terjadi di pasar mengakibatkan perputaran uang antar konsumen dan produsen berjalan dengan lancer . Rumah tangga konsumen memperoleh uang melalui penjualan barang dan jasa . Kondisi ini disebut sebagai simbiosis mutualisme antara sector rumah tangga perusahaan dan rumah tangga konsumen . Alfred Marshal menyebut bahwa permintaan akan faktor produksi merupakan turunan (derived demand) dari permintaan akan barang dan jasa yang timbukl karena kebutuhan manusia . Besarnya pendapatan baik produsen maupun konsumen tergantung pada :

1 . Kuantitas faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan

2 . Jumlah barang dan jasa yang berhasil diciptakan dengan adanya produksi

3 . Tingkat harga penggunaan yang berlaku , karena faktor produksi juga mempunyai harga yang akan menjadi biaya produksi bagi perusahaan .

Permintaan akan barang timbul karena individu pada sektor rumah tangga :

1 . Memerlukan barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya

2 . Memiliki daya beli ( pendapatan ) yang diperoleh dari penjualan atas faktor – faktor produksi yang dimilikinya ke sektor rumah tangga perusahaan .

Dalam kaitannya dengan hal diatas , untuk memproduksi suatu barang dan jasa , perusahaan memerlukan sumber atau faktor pruduksi . Yaitu input – input yang dibutuhkan untuk mencipatakan output produk . Hubungan antara input dan output digambarkan sebagai berikut :

Q = f ( K , L ,T , N )

Dimana Q = Output atau produk

K = Kapital / modal

L = Labour / tenaga kerja

T = Tekhnologi

N = Nature / Tanah / Sumber daya alam

S = Skill / Entepreneur

Dari fungsi hubungan antara input dengan output diperoleh biaya produksi untuk masing masing tingkat out put

Salah satu cakupan teori dalam ekonomi mikro adalah cost atau biaya. Biaya ini memiliki berbagai macambentuk dan relasi dengan dua kegiatan terpenting dalam perekonomian yaitu, produksi dan konsumsi.

Definisi dari biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan telah terjadi untuk tujuan tertentu (Mulyadi; 1993).

Biaya ini memiliki empat unsur pokok dalam definisinya, yaitu :

1.Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.

2.Diukur dalam satuan uang

3.Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi

4.Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Biaya juga dikelompokkan menjadi beberapa bagian :

· Dalam perusahaan manufaktur biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:

a. Biaya produksi

Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut obyek pengeluarannya biaya produksi ini dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsungdan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenagakerja langsung disebut juga biaya utama (primer cost). Sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overheadpabrik disebut pula biaya konversi (conversion cost), yang merupakan biaya untuk mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi.

b. Biaya pemasaran

Biaya pemasaran merupakan biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produksi.

c. Biaya administrasi dan umum

Biaya administrasi dan umum merupakan biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produksi.

· Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua:

a. Biaya langsung (direct cost )

Biaya langsung merupakan biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena sesuatu yang dibiayai. Biayaproduksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

b. Biaya tidak langsung (indirect cost )

Biaya tidak langsung merupakan biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik

Dari pengelompokkan ini juga dapat terlihat bahwa pada biaya, kegiatan konsumsi dan produksi sangat berkaitan erat. Karena untuk melakukan sebuah kegiatan produksi diperlukan berbagai macam biaya tentunya. Dan untuk melakukan sebuah kegiatan konsumsi harus ada pengorbanan yang dilakukan oleh seorang knsumen untuk memenuhi kebutuhannya, nah pengorbanan tersebut adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang konsumen.

Seperti pada perilaku konsumen , Dalam berperilaku seorang produsen juga dibatasi dengan besar biaya yang harus dikeluarkan dan juga besarnya produk yang bisa dibuat . Hal ini disebut dengan isocost dan isoproduct . Isoproduct adalah kurva yang menghubungkan kombinasi antara faktor produksi yang mampu memproduksi sejumlah barang tertentu . Sifat Isoproduct sama dengan kurva indifferent . Isocost adalah garis yang menghubungkan kombinasi faktor – faktor produksi pada tingkat pengeluaran biuaya tertentu .

Sumber :

id.wikipedia.org/wiki/biaya

id.shvoong.com/business-management/accounting/2138610-macam-macam biaya/#ixzzlkWzLX4EC

saintaths.blogspot.com/2011/05/teori-ekonomi-mikro-biaya-produksi.html

elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peranggaran/bagian3-analisispendukung-bab10-budget biaya fleksibel.pdf

google.com

10 Desember 2011

Pengaruh Pendapatan Ruas Jalan Tol Lingkar Jawa

Diposting oleh Widya_Mauretya di 02.39 0 komentar

Jalan tol Lintas Jawa atau yang lebih dikenal dengan Jalan Tol Trans Jawa adalah jaringan jalan tol yang menghubungkan kota – kota di pulau jawa . Jalan Tol ini menghubungkan dua kota besar di Indonesia , Jakarta dan Surabaya melalui jalan tol . Pemerintah merencankan pembangunan jalan tol Trans Jawa sekitar 1000 km yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya . Diantaranya ruas jalan tol tersebut adalah :

1. Jalan Tol Jakarta-Cikampek 72 Km (beroperasi sejak 1988)

2. Jalan Tol Cikampek-Palimanan 116 Km (direncanakan selesai september 2014)

3. Jalan Tol Palimanan-Kanci 26,3 Km (beroperasi sejak 1998)

4. Jalan Tol Kanci-Pejagan 35 Km (beroperasi sejak 26 Januari 2010)

5. Jalan Tol Pejagan-Pemalang 57,50 Km (direncanakan operasi 2011)

6. Jalan Tol Pemalang-Batang 39 Km (direncanakan operasi 2011)

7. Jalan Tol Batang-Semarang 75 Km (direncanakan operasi 2011)

8. Jalan Tol Semarang-Solo 75,7 Km (seksi I Semarang-Ungaran diresmikan November 2011, seksi II, III, IV direncanakan 2012)

9. Jalan Tol Solo-Ngawi 20,9 Km

10. Jalan Tol Ngawi-Kertosono 49,51 Km

11. Jalan Tol Kertosono-Mojokerto 41,65 Km (rencana operasi 2012)

12. Jalan Tol Mojokerto-Surabaya 34 Km (Seksi 1A beroperasi sejak 27 Agustus 2011, seksi berikutnya rencanan operasi 2013)

Ruas jalan tol tersebut merupakan proyek yang belum terselesaikan sepenuhnya , karena hanya sebagian yang baru terselesaikan . Tapi diperkirakan proyek ini akan selesai pada tahun 2014 . Pembangunan yang akan menghabiskan biaya ratusan milyar ini diharapkan akan menghasilkan efisisensi. Efisisensi yag dimaksud disini adalah dengan dibangunya ruas Tol Lingkar Jawa diharapkan dapat memberikan kemudahan untuk masyarakat yang akan berpergian menuju Jakarta – Surabaya maupun sebaliknya . Sementara itu , efisiensi yang dilakukan tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah Pendapatan Negara (Income) , yang selanjutnya akan meningkatkan tingkat konsumsi dan tingkat Investasi negara . Untuk lebih memahami mengenai pengaruh antara perubahan pendapatan dengan tingkat konsumsi dan tingkat investasi yang dilakukan berikut kurva yang menggambarkan hubungan tersebut .



Dari kurva tersebut dapat digambarkan bahwa pada saat tingkat pendapatan berada di Ya yang berarti tingkat konsumsi tetap . Sehingga jumlah pendapatan hanya bisa dilakukan untuk konsumsi . Kemudian tingkat pendapatan bertambah menjadi Ye, peningkatan ini menyebabkan jumlah konsumsi dapat terpenuhi dan dapat melakukan Investasi , keadaan inilah yang dinamakan Equilibrium dimana Y = C + I . Kemudian dengan bertambahnya pembangunan tol , diharapkan akan meningkatkan jumlah pendapatan seperti kurva Yp yang membuat jumlah konsumsi dan investasi juga akan meningkat . Karena jumlah konsumsi maupun investasi meningkat diharapkan stabilisasi nasional dapat terjadi . Oleh karena itu , agar semua dapat tercapai diharapkan proyek Jalan Tol Lingkar Jawa ini dapat cepat terselesaikan sehingga tidak hanya dapat membantu masyarakat pengguna Jalan Tol , tetapi juga dapat membantu semua masyarakat . Karena meningkatnya Pendapatan yang berasal dari jalan tol tersebut merupakan salah satu kontribusi untuk membangun perekonomian Indonesia

8 Desember 2011

Pertamax naik , pendapatan Pertamina pun turun drastis

Diposting oleh Widya_Mauretya di 06.56 0 komentar
Permasalahan :
Mengapa kenaikan pertamax berdampak dengan menurunnya jumlah pendapatan PT.Pertamina ?

Analisis:
Kenaikan BBM khususnya untuk jenis pertamax telah menjadi buah bibir untuk sebagian kalangan masyarakat . Bukan hanya dampak negatif yang berpengaruh unuk masyarakat , tapi untuk PT.Pertamina sendiri hal ini mengakibatkan dampak negatif . Kenaikan pertamax yang seharusnya dapat berdampak positif untuk PT.Pertamina , berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada . Pendapatan yang diperkirakan akan meningkat oleh PT.Pertamina dengan adanya kenaikan harga pertamax justru membuat pendapatan PT.Pertamina menjadi menurun drastis . Hal ini disebabkan karena jumlah konsumen Pertamax sebagian besar beralih ke Premium yang merupakan BBM bersubsidi . BBM bersubsidi yang notabene dikhususkan untuk kalangan menengah kebawah justru juga dinikmati oleh kalangan menengah ke atas yang semula merupakan pengguna pertamax . Kenaikan pertamax yang sangat tinggi di kondisi perekonomian saat ini , membuat banyak masyarakat bahkan yang bisa dikategorikan kalangan menengah ke atas berpikir 2 kali untuk membeli pertamax . Oleh karena itu banyak yang beralih ke premium . Hal ini secara langsung berdampak dengan menurunnya jumlah pendapatan PT.Pertamina . Untuk bisa lebih memahami mengenai penurunan tersebut saya akan memberikan contoh sebagai bahan ilustrasi .
Pada awalnya harga pertamax sebesar Rp 6.000,- per liter dan harga premium sebesar Rp 4500,- per liter , jika jumlah konsumen sebanyak 1000 orang maka perhitungan pendapatan kotor seperti berikut :
Pertamax = 1000 * 6000 = 6.000.000
Premium = 1000 * 4500 = 4.500.000 +
10.500.000
Jadi jumlah pendapatan PT.Pertamina dimisalkan sebesar Rp 10.500.000 sebelum adanya kenaikan harga pertamax .

Tapi dengan adanya kenaikan harga pertamax yang menjadi Rp 8.000,- per liter maka jumlah konsumen yang semula berjumlah 1000 orang , menjadi 400 orang dan 600 orang beralih ke premium sehingga jumlah konsumen premium menjadi bertambah sebanyak 1600 maka perhitungan pendapatan kotornya menjadi seperti berikut :
Pertamax = 200 * 8000 = 1.600 .000
Premium = 1800*4500 = 8.100 .000+
9.700.0000
Jadi ada penurunan sebesar 800.000 , hal ini akan cukup signifikan jika jumlah konsumen nyata akan melebihi jumlah contoh diatas .

Solusi :
Pemerintah seharusnya dapat lebih mempertimbangkan tentang permasalahan kenaikan pertamax agar para konsumen pertamax tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi . Selain itu , indikator pemakai yang berhak untuk BBM bersubsidi agar lebih diperjelas bagaiaman org yang berhak untuk BBM bersubsidi tersebut . Karena bukan berarti pemakai kendaraan roda 2 adalah orang kalangan menengah ke bawah , tetapi banyak juga yang merupakan dari kalangan menengah ke atas , dan tidak selamanya pengguna kendaraan roda 4 adalah orang dari kalangan atas , tapi bisa juga merupakan konsumen dari golongan menengah seperti supir angkot yang berhak untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut . Dengan banyaknya pengguna BBM bersubsidi yang sebagian merupakan konsumen dari golongan menengah ke atas , akan memurunkan jumlah pendapatan nasional karena banyak jumlah yang harus disubsidi oleh pemerintah . Oleh karena itu seharusnya kenaikan Pertamax atau BBM lainnya kecuali premium harus di setarakan dengan kenaikan harga premium , atau kenaikan pertamax dan membuat premium menjadi BBM bersubsidi seharusnya diseimbangkan dengan indikator siapa saja yang berhak mendapatkan BBM bersubsidi dan lebih diperketat untuk kebijakan itu .

3 Maret 2012

0 komentar


Providing Competitiveness Assessment Model for State and
Private Banks of Iran

H.E. Givi, A. Ebrahimi, M.B. Nasrabadi and H. Safari
Department of Management, Imam Sadiq University, Tehran, Iran
IDepartment of Management, Tehran University, Tehran, Iran

RINGKASAN JURNAL

Dalam dunia perekonomian , khususnya perbankan dibutuhkan suatu model sistematis untuk mengukur kemampuan bank untuk berkompetitif . Model sistematis ini digunakan untuk membantu Bank untuk mengerti status mereka saat ini untuk melakukan perencanaan masa depan . Dan dalam suatu model sistematis tersebut digunakan beberapa variable yang mempengaruhi daya saing bank untuk berkompetitif . Dan dalam penelitian yang digunakan untuk mengatuhi daya saing bank di Iran ini digunakan variabel kekuatan keuangan , pangsa pasar , modal manusia , pertukaran kegiatan internasional , dan penggunaan teknologi . Masing – masing variabel dapat dihitung melalui indeks . Dan selanjutnya hasil dari model ini digunakan untuk pengukuran daya saing Bank . Hasil dari model ini dilihat dari indeks masing – masing variabel , dan berdasarkan indeks penelitian untuk kompetitif bank , terlihat hasil bahwa Bank milik Negara berada pada urutan pertama . Bank – bank milik Negara ini telah mengungguli bank lain dalam berbagai indikator yang dipelajari dalam penelitian ini , terutama dari indeks kekuatan financial yang mempunyai dampak besar pada daya saing bank . Bank yang memiliki peringkat pertama ini telah mengungguli dalam hal asset dan ekuitas dibandingkan dengan bank lainnya.Namun hal lain mengatakan bahwa Bank milik Negara di Iran dapat berada di posisi pertama karena bank tersebut terkait dengan pemerintah . Selain itu selain kekuatan financial , pangsa pasar juga mempunyai kekuatan penting dalam mendukung daya saing bank tersebut . Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa daya saing Bank ditentukan oleh seberapa besar kekuatan financial yang dimiliki oleh bank tersebut dan seberapa banyak pangsa pasar yang dapat mereka kuasai . Oleh karena itu untuk dapat mengungguli perusahaan lain , suatu perusahaan harus memperkuat kekuatan financial perusahaan mereka , serta menguasai pangsa pasar lebih banyak dibanding perusahaan lain . Maka dari itu Bank swasta di Iran harus meningkatkan kemampuan mereka dalam dimensi pangsa pasar dan kegiatan Internasional . Mereka juga harus mempertimbangkan indeks kegemaran dalam dua dimensi untuk mengembangkan rencana yang diperlukan untuk meningkatkan kompettif . Lain daripada hal itu , Bank umum milik pemerintah harus lebih fokus pada kekuatan financial dan dimensi dari kegiatan internasional untuk mempertahankan posisi mereka saat ini .


Variabel dalam penentuan daya saing

18 Februari 2012

Perilaku Ekonomi Mempengaruhi Elastisitas

0 komentar

Berbicara mengenai perilaku ekonomi, seolah tidak akan ada habisnya . Karena ekonomi merupakan suatu tolak ukur perkembangan manusia . Hal inti dari setiap kegiatan ekonomi adalah berbicara mengenai harga ( p ) dan jumlah barang ( q ) baik yang diminta ataupun yang ditawarkan . Oleh karena itu , pengaruh antara perubahan harga dengan jumlah barang yang diminta diukur dengan sesuatu yang dinamakan elastisitas . Elastisitas bukan merupakan hal yang baru dalam perekonomian . Tolak ukur elastisitas sangat mempengaruhi perkembangan ekonomi, sebab elastis maupun inelastis pengaruh harga terhadap jumlah barang yang diminta akan berperan penting dalam kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya . Banyak pelaku ekonom yang mengukur perkembangan usaha mereka dengan menggunakan elastisitas . Selain itu banyak kasus mengenai perekonomian yang mempengaruhi tingkat elastisitas ,berikut esensi beberapa kasus tersebut :

· “Secara umum, kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini dikarenakan terbatasnya barang substitusi dan komplementer dari BBM tersebut.” Ini merupakan contoh bahwa kenaikan BBM yang diiringi dengan subsidi pemerintah akan membuat tingkat elastisitas menjadi inelastis , karena perubahan harga BBM tidak akan mengubah permintaan terhadap BBM menjadi berkurang atau bertambah , hal ini didorong dengan tidak adanya barang komplementer ataupun barang subtitusi dari BBM .

· “Di tahun 2011 ada permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa. Karena di sana mulai diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan karena bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0. Nilai elastisitas yang mendekati 0 ini disebabkan oleh adanya pemakaian air yang tidak terkontrol di masyarakat sehingga ada ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Akibatnya di USA diadakan penelitian untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut. Metode yang digunakan antara lain metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun dalam kenyataannya dari kedua metode ini kita tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dsb.” Dalam hal ini , elastisitas mengalami kesenjangan akibat dari ketidak sesuaian antara permintaan dengan harga yang ditentukan . Tingkat suatu elastisitas cenderung akan mengalami kesenjangan karena banyaknya faktor , seperti contoh diatas untuk mengatasi kesenjangan dari elastisitas tersebut digunakan banyak cara , sebab kesesuaian elastisitas sangat diharapkan dalam setiap kegiatan ekonomi .

· “Semakin berkurangnya pajak yang diterima oleh pemerintah juga semakin memperburuk kekurangannya. Dengan kurangnya pajak yang diterima pemerintah membuat pemerintah kurang mampu membiayai aggaran pengeluarannya tapi memiliki sisi positif pada kesejahteraan dalam negeri dan konsumsi rumah tangga meningkat. Untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang buruk itu, sektor pariwisata bisa menjadi solusinya. Seperti yang telah dijelaskan dijurnal bahwa kenaikan permintaan pariwisata asing akan membuat produksi yang lebih dan penyerapan tenaga kerja domestic meningkat.

Dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi didalam kasus ini maka dapat disimpulkan bahwa ini bersifat elastis.Untuk mencegah terjadinya inelastis maka pemerintah seharusnya membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.”Tidak berbeda jauh dengan kasus – kasus sebelumnya , dalam kasus ini hubungan antara harga dengan permintaan bersifat elastis sebab , menurunnya harga seiring dengan jumlah permintaanya . Namun hubungan antara harga dan permintaan bisa saja terjadi inelastis sebab perubahn harga tidak seiring berubahnya jumlah permintaan . Oleh karena itu dalam kasus ini untuk menghindari inelastis , pemerintah membuat kebijakan untuk menaikan harga dan menurunkan tariff pajak . Hal ini akan berdampak dengan meningkatnya income sehingga akan mempengaruhi jumlah permintaan konsumen .

· “Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan karena dengan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat standar hidup masyarakat asia pada kala itu rendah, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.” Dalam permintaan Asuransi , elastisitas juga merupakan suatu tolak ukur perkembangan dan jumlah permintaan asuransi sebelum dan sesudah krisis ekonomi . Kasus ini membuktikan bahwa perubahan harga tidak akan selalu mempengaruhi jumlah permintaan . Hal ini terjadi karena adanya beberapa faktor pendukung . Oleh sebab itu untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan beberapa hal untuk mengatasi inelastisitas . Karena seperti yang diketahui bahwa inelastisitas suatu hubungan antara harga dengan permintaan akan berdampak kurang baik untuk kemajuan suatu kegiatan perekonomian .

· “Jika ditelaah lebih jauh, iklan dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang. Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar. Kesimpulannya, iklan yang dapat menarik konsumen akan menurunkan sensitivitas harga.” Iklan merupakan hal yang sangat penting dalam suatu kegiatan perekonomian ,karena iklan memegang peranan penting dalam jumlah permintaan konsumen . Oleh karena iklan mempengaruhi harga dan jumlah permintaan maka secara otomatis iklan juga akan mempengarui tingkat elastisitas . Ada 3 kondisi iklan yang akan mempengaruhi harga dan sensitivitas harga , yaitu :

1 .Peningkatan harga iklan akan mengakibatkan harga menjadi tinggi .Maksud dari hal ini adalah secara otomatis jika dana yang digunakan dalam pembuatan iklan tinggi , maka harga yang ditentukan oleh suatu barang juga akan ikut meningkat .

2 .Penggunaan iklan harga mengarah ke harga yang lebih rendah .Maksud dari hal ini adalah bahwa iklan yang menyantumkan harga di iklannya cenderung akan mencantumkan harga yang lebih rendah .

3. Peningkatan iklan non harga menyebabkan sensitivitas harga yang lebih rendah .

Maksud dari hal ini adalah jika iklan tidak menyantumkan harga maka akan berpengaruh terhadap menurunnya sensitivitas konsumen untuk membeli barang tersebut . sensitivitas harga konsumen mempunyai pengertian sebagai keinginan seimbang antara atribut produk dan harga yang akan dibayar oleh konsumen , dengan adanya sensitivitas harga , maka konsumen akan membeli produk dengan membandingkan antara nilai dan manfaat yang akan diterima dengan mencari alternative harga yang terbaik yang akan memaksimalkan nilai yang akan diterimannya .

Dari ketiga hal tersebut , dapat terlihat jelas bahwa hal – hal tersebut akan mempengaruhi elastisitas . Jika dilihat dari kasus yang telah disebutkan diatas , bahwa dapat disimpulkan bahwa elastisitas peningkatan harga akan menurunkan elastisitas jumlah barang yang diminta , karena adanya barang subtitusi ( pengganti ) . Namun jika barang tersebut tidak mempunyai barang subtitusi ataupun komplementer maka perubahan harga yang semakin tinggi tidak selalu menjadikan elastisitas permintaan menjadi semakin rendah .

· “Dengan adanya internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Pajak yang lebih tinggi menyebabkan penyelundupan lebih besar dan jumlah penyelundupan tambahan telah tumbuh secara signifikan dengan munculnya Internet. Karena setelah di teliti jumlah penyelundupan yang timbul dari perubahan tarif pajak negara hampir dua kali lipat karena munculnya internet. Maka dapat disimpukan bahwa pajak rokok tidak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Dengan adanya internet juga membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.“Kasus ini membahas mengenai dampak internet terhadap elastisitas suatu permintaan . Negara Amerika Serikat telah mencoba beberapa cara untuk mengurangi tingkat permintaan rokok , sebab rokok merupakan salah satu masalah besar dalam hal kesehatan di Negara tersebut . Oleh karena hal itu , Amerika Serikat mencoba untuk mengurangi pembelian rokok dengan meningkatkan pajak menjadi 33 % , dengan harapan bahwa jumlah permintaan rokok akan berkurang . Namun seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat , warga Amerika dapat membeli rokok menggunakan internet ke Negara lain , oleh sebab itu meningkatnya harga rokok di Negara Amerika Serikat tidak akan mengurangi jumlah permintaan meskipun pembelian terhadap rokok tidak dilakukan di dalam Negeri . Oleh karena itu peningkatan pajak , belum tentu dapat mengurangi jumlah permintaan , dan seharusnya dicari solusi lain untuk mengatasi hal ini .

· Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Dalam menyelesaikan hal ini, peneliti berusaha menghubungkan pemberlakuan pajak dan subsidi untuk menganalisis dampaknya terhadap harga bahan makanan. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik. Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.“ Dalam kasus ini dikatakan bahwa pemberian subsidi terhadap buah dan sayur tidak meningkatkan permintaan secara signifikan , Oleh karena itu penurunan harga tidak mempengaruhi jumlah permintaan , hal ini bukan saja karena adanya barang subsitusi ataupun barang komplementer , tetapi gaya hidup juga mempengaruhi jumlah permintaan . Oleh karena itu elastisitas suatu permintaan disini juga dapat dipengaruhi oleh pengaruh gaya hidup .

Dari sejumlah kasus diatas dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa berbagai keadaan dan perilaku ekonomi dapat mempengaruhi tingkat elastisitas . Tingkat elastisitas yang baik adalah jika hubungan antara harga ( p ) dengan jumlah barang yang diminta ( q )adalah elastis . Maksudnya penurunan harga seharusnya akan meningkatkan jumlah barang yang diminta secara signifikan . Namun berbagai kondisi dapat mempengaruhi hal tersebut , diantaranya kenaikan harga , tidak selalu mempengaruhi jumlah permintaan hal ini dikarenakan adanya barang subtitusi maupun barang komplementer . Namun jika tidak ada barang subtitusi ataupun barang komplementer , maka peningkatan harga tidak selalu menurunkan jumlah permintaan . Selain itu penurunan harga juga tidak selalu mempengaruhi jumlah permintaan semakin banyak . Hal ini didukung dengan banyaknya faktor pendukung . Selain itu penurunan harga yang didukung dengan adanya subsidi juga tidak mendorong jumlah permintaan menjadi lebi signifikan , hal ini terjadi adanya gaya hidup , oleh karena itu elastisitas juga dapat dipengaruhi oleh gaya hidup . Dan perkembangan internet dan pengaruh iklan pun juga merupakan salah satu perkembangan dalam ekonomi yang mempengaruhi tingkat elastisitas harga dan permintaan .

3 Februari 2012

The Best Technology to Fixed a Firm

0 komentar

Berbicara mengenai bisnis , pasti kita akan tertuju dengan permasalahan seberapa besar jumlah yang diproduksi dan seberapa besar profit atau keuntungan yang dihasilkan . Jawaban untuk pertanyaan ini adalah tergantung efisiensi yang dilakukan oleh masing – masing perusahaan . Efisiensi adalah kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki dan bisa menghasilkan produksi yang semaksimal mungkin . Efisiensi sangat tergantung dalam pengelolaan produksi . Jika pengelolaan tidak berjalan dengan baik maka suatu perusahaan dapat dikatakan tidak efisiensi dalam menggunakan sumber daya yang dimiliki . Hal itu merupakan salah satu pemicu terjadinya ketidak efisiensi suatu perusahaan . Banyak hal yang dapat mendorong ketidak efisiensian suatu perusahaan antara lain , kurangnya kontrol terhadap jalannya perusahaan . Pengendalian atau kontrol terhadap perusahaan merupakan salah satu aspek penting dalam perusahaan , karena hal ini sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan suatu perusahaan . Efisiensi suatu perusahaan saat ini bukanlah seberapa banyak perusahaan tersebut memperkerjakan karyawan . Karena karyawan merupakan manusia yang mempunyai titik kelemahan dan tidak mampu beroperasi dalam jam kerja yang panjang . Oleh karena itu fungsi manusia pada saat ini telah banyak tergantikan oleh kemajuan teknologi . Pertanyaan mengenai what the best technology to fixed a firm ? adalah salah satu pertanyaan yang membahas mengenai tingkat efisiensi suatu perusahaan , sehingga dapat memperbaiki infrastruktur perusahaan . Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah terletak sampai dimana teknologi tersebut dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan seberapa besar profit yang dihasikan oleh pemakaian teknologi tersebut . Teknologi terbaik adalah teknologi yang mampu memberikan hal yang maksimal . Saat ini perkembangan teknologi yang banyak digunakan oleh perusahaan adalah mesin – mesin yang dapat mengurangi jumlah tenaga kerja . Pemakaian mesin tersebut telah membuat terjadinya pengurangan tenaga kerja . Tetapi jumlah produksi yang dihasilkan akan lebih banyak dan pemakaian sumber daya pun dapat digunakan semaksimal mungkin . Untuk lebih memahami bagaimana penggunaan teknologi dapat mempengaruhi jumlah produksi dan kaitannya dengan efisiensi maka dibawah ini merupakan tabel produksi suatu perusahaan .


Diatas merupakan tabel produksi suatu perusahaan . Jika pada tabel pertama merupakan tabel produksi yang masih mengandalkan jumlah tenaga kerja maka dapat disimpulkan bahwa produksi akan bertambah seiring bertambahnya jumlah tenaga kerja . Hal ini mempunyai banyak kekurangan diantaranya yaitu , semakin banyak jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan semakin banyak juga pengeluaran untuk gaji yang dikeluarkan . Terkadang kinerja mereka tidak dapat menghasilkan produksi yang maksimal . Oleh karena itu saat ini mulai banyak perusahaan yang menggantikan cara kerja manusia dengan cara kerja mesin . Perbedaan antara kemampuan manusia dengan kemampuan mesin sangat terliha jika perusahaan mulai menggunakan mesin dalam hal produksi maka jumlah karyawan yang diperkerjakan pun dikurangi . Dan produksi yang dihasilkan dapat lebih maksimal . Sehingga semakin banyak tenaga manusia yang tergantikan oleh kinerja mesin maka semakin banyak juga hasil yang dapat diproduksi . Tetapi bukan berarti tenaga manusia tidak diperlukan lagi , tenaga manusia tetap diperlukan untuk mengontrol kegiatan mesin-mesin tersebut . Selain perkembangan teknologi berupa mesin , teknologi Internet juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup perusahaan . Internet merupakan sarana umum yang saat ini perkembangannya mulai pesat . Hampir setiap orang di dunia ini mengenal istilah Internet . Dalam perekonomian Internet merupakan salah satu sarana untuk memperkenalkan bisnisnya . Dengan internet orang akan lebih mudah untuk mengakses ataupun melakukan transaksi jual beli tanpa harus bertatap muka langsung . Berikut grafik yang menunjukan berbagai aktivitas internet :

Melihat grafik tersebut , sebagian besar kegiatan perekonomian berjalan di antara aktivitas – aktivitas tersebut . Oleh karena itu internet merupakan salah satu teknologi yang sangat dapat diandalkan untuk memajukan perusahaan . Terdapat perbedaan terhadap perusahaan yang tidak mengenal internet dan perusahaan yang memanfaatkan Internet sebagai sarana bisnisnya . Lalu apa hubungannya antara efisiensi dengan perkembangan teknologi ? perkembangan teknologi telah membuat produksi lebih meningkat tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan pengeluaran .



26 Januari 2012

Analisis Jurnal

0 komentar

KEUNGGULAN KOMPARATIF DAN ANALISIS SENSITIVITAS

USAHA TERNAK SAPI PERAH MENURUT POLA PENGUSAHAAN

DI JAWA BARAT

Benny Rachman

Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian

Jalan A.Yani 70, P.O Box 200 , Bogor 16111 , Indonesia

1997

TEMA / TOPIK PENELITIAN

Pengaruh efesiensi pemanfaatan sumber daya usaha ternak sapi terhadap keunggulan komparatif

JUDUL PENELITIAN

Keunggulan komparatif dan analisis sensitivitas usaha ternak sapi perah menurut pola pengusaha di Jawa Barat

LATAR BELAKANG PENELITIAN

I.Fenomena

Sebagai salah satu program sektoral , usaha ternak sapi perah dipandnang kondusif bila dikaitkan dengan kendala sumber daya dan alokasi dana yang terbatas . Dengan terciptanya iklim usaha yang kondusif tentunyadapat memberi peluang adanya peningkatan pendapatan , khususnya peternak , serta peluamg investasi dan perluasan usaha . Oleh karena peluang usaha yang prospektif maka perlu dilakukan efisiensi agar dapat menelaah kelayakan usaha sapi perah dari berbagai pola rekomendasi pengembangan , ditinjau dari segi efesiensi pemanfaatan sumberdaya domestic melalui alat analisis BSD (biaya sumber – daya domestik) .

II . Motivasi penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk menelaah kelayakan usaha sapi perah dari berbagai pola rekomendasi pengembangan , ditinjau dari segi efesiensi pemanfaatan sumber daya domestic melalui alat analisis BSD (biaya sumber – daya domestik

HIPOTESIS PENELITIAN

1 . Apakah pola yang diajukan cenderung menguntungkan untuk peternakan sapi perah ?

2 . Apakah efisiensi terhadap sumber daya mempengaruhi keunggulan komparatif ?

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efisiensi sumber daya domestik dalam menelaah kelayakan usaha sapi perah dari berbagai pola rekomendasi pengembangan melalui analisis BSD (biaya sumber –daya domestik) .

METODOLOGI PENELITIAN

1 . Data

Dalam penelitian ini dipergunakan tiga gugus data yaitu 1. Data input – output usaha ni susu sapi perah , 2 . data input yang dapat diuraikan ke dalam komponen domestik dan asing dari input usaha tani , dan 3 . data ekonomik untuk perkiraan harga bayangan input dan output usaha tani susu sapi perah yang dianalisis

2 . Variabel

Dalam penelitian kali ini dibutukan alat analisis yang berupa BSD ( biaya sumber domestik ) . BSD sendiri dapat didefinisikan sebagai ukuran biaya peluang social ( social opportunity cost ) dari penerimaan suatu unit marginal bersih devisa diukur dalam bentuk faktor – faktor produksi domestik yang digunakan , baik langsung maupun tidak langsung dalam suatu aktivitas ekonomi . Penentuan BSD dapat diawali dari konsep NSP ( net social profitability ) , yang dirumuskan oleh PEARSON , 1976 sebagai berikut :




Dari persamaan 3 , terlihat harga bayangan nilai tukar uang sama dengan biaya sosial input domestik ditambah eksternalitas dibagi dengan total penerimaan sosial dikurangi dengan biaya sosial komponen inpu asing . Dengan demikian bentuk BSD menjadi :

Dari persamaan 4 terlihat bahwa BSD merupakan besarnya biaya sumber daya domestik yang dikeluarkan untuk memperoleh atau menghematnilai tambah satu satuan devisa . Satuan dari BSD adalah Rp/US $ . Keunggulan komparatif suatu komoditas untuk diekspor diukur melalui rasio biaya sumberdaya domestik (RBSD ),yaitu rasio antara BSD dan harga bayangan nilai berukar (V) sebagai berikut :

HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN

Penerapan analisis ini diarahkan untuk menelaah efisiensi ekonomi usaha sapi perah ditinjau dariefisiensi pemanfaatan sumberdaya domestik dalam Upaya menghemat satu-satuan devisa. Kajian ini dilengkapi pula dengan analisis sensitivitas pada tingkat harga dan produksi yang berlainan.


Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tingkat produksi yang dicapai saat ini oleh PK (3.800 Itr/ut/tahun), PRK (4.422 ltr/ut/tahun) dan PP (4.270 ltr/ut/tahun), dan tingkat harga di pasar internasional sebesar Rp 375 per liter cukup menjamin adanya efisiensi pemanfaatan sumberdaya domestik dalam usaha sapi perah. Berbeda halnya untuk tingkat harga di bawah Rp375 per liter, pada semua pola belum memberikan kelayakan ekonomis. Kenyataan ini diindikasikan oleh nilai koefisien BSD yang lebih besar dari satu (> 1,0), atau dengan pengertian lain pemanfaatan sumberdaya domestik dalam usaha sapi perah tidak menguntungkan, dan sebaliknya lebih menguntungkan apabila melakukan impor susu dari luar negeri Dari studi yang dilakukan KASRYNO, (1990) dengan membedakan tiga regim perdagangan, yaitu perdagangan antar wilayah (IR), substitusi impor (IS) dan promosi ekspor (EP) diperoleh informasi bahwa secara umum kondisi persusuan di Indonesia tidak efisien. Hal ini didasarkan atas perhitungannya terhadap nilai rasio biaya sumberdaya domestik (RBSD) dari ketiga regim (pola perusahaan kelompok) masing- masing sebesar 2,20 ; 2,88 clan 2,85, sedangkan untuk pola petemakan rakyat memperlihatkan kinerja yang hampir sama, yaitu 2,90 (IR), 2,40 (IS) dan 2,36 (EP). Hal lain yang menarik dari temuan ini adalah pemanfaatan bibit sapi silang relatif lebih efisien dibandingkan dengan bibit sapi impor, seperti diindikasikan oleh rataan nilai RBSD yang lebih rendah (1,52 vs 2,9). Dasar pertimbangan dari penelitian diatas, agaknya masih terlalu lemah untuk digeneralisasikan secara nasional, mengingat usaha pengembangan sapi perah menuntut kesesuaian lokasi yang spesifik,sehingga seyogianya dalam menelaah tingkat efisiensi . pemanfaatan sumberdaya domestik dari usaha susu sapi perah perlu mengacu pada pengklasifikasian wilayah yang dipandang memiliki kesesuaian agro-khmat dalam pengembangannya. Dalam konteks mikro pengembangan ternak sapi perah yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sumberdaya alam, produksi, dan perbaikan tingkat kesejahteraan dipandang strategis bila dikaitkan dengan kendala sumberdaya dan alokasi dana yang terbatas. Program ini relatif tidak bensandar pada basis penggunaan lahan yang luas, serta cukup dapat mendukung upaya pendistribusian pendapatan, khususnya bagi masyarakat petani kecil. Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa kebijaksanaan secara makro tentunya tidak dapat sepenuhnya relevan diterapkan dalam konteks mikro. Hal ini tercermin pula dari kinerja makro usaha persusuan yang secara ekonomi kurang efisien dikembangkan, namun berbeda halnya apabila pengembangannya ditelaah dalam konteks mikro yang memperlihatkan kinerja yang bervariasi. Dari tinjauan penelitian yang dilakukan IRAWAN dan RuSASTRA, (1990) di wilayah Jawa Tengah terhadap petemak perusahaan dan peternak rakyat tersimpul bahwa kedua pola tersebut tidak efisien dalam alokasi sumberdaya. Hal ini dicirikan dari angka RBSD yang tergolong tinggi, yaitu 2,8 dan 2,4 . Hasil analisis dari penelitian ini tidak terlepas dari teknik peng-ambilan contoh yang cenderung kurang mempertimbangkan skala pemilikannya, serta jumlah sampel peternak yang relatif kecil, yakni 21 peternak. Kondisi ini sudah barang tentu belum mencerminkan karakteristik yang sebenarnya dari profil petemak sapi perah di Jawa Tengah.

KESIMPULAN

Pada tingkat produksi yang dicapai saat ini , ketiga pola tersebut cukup memberikan jaminan keunggulan komparatif . Hal ini didasarkan karena nilai koefisien BSD yang lebih kecil dari 1 . Atau dengan pengertian lain , dengan jumlah produksi yang dicapai saat ini , serta tingkat harga pasar dunia sebesar Rp 375 / liter cukup menjamin efisiensi pemanfaatan sumber daya domestik . Jadi penilaian efisiensi susu sapi perah akan bertolak terhadap harga susu sapi perah pada tingkat dunia. Usaha susu sapi perah domestik , khususnya pola perusahaan kelompok (PPK) diperkirakan akan semakin efisien dan layak secara ekonomi apabila harga susu internasional meningkat . Hal ini cukup mempunyai alasan sebab jika dibandingkan dengan PRK dan PK . Sehingga memungkinkan bahwa pemenuhan kebutuhan susu dalam negeri melalui pengembangan pola perusahaan kelompok relative akan menguntungkan .

SARAN

Berdasarkan analisis dan data – data diatas maka seharusnya para usaha susu sapi ternak lebih dapat mengefisiensikan sumber daya . Hal ini dapat dilakukan dengan dengan menggunakan pola perusahaan kelompok , karena pola perusahaan kelompok lebih menjamin efisien dibanding dengan PRK dan PK . Dan seharusnya susu sapi perah di Indonesia harus lebih bisa memiliki keuntungan komparatif dibanding produksi susu sapi perah di Negara lain .


Relasi antara Biaya (cost) terhadap Produksi dan Konsumsi

1 komentar

Dalam kegiatan perekonomian mikro kegiatan produksi dan konsumsi merupakan salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan . Sebab , produksi dan konsumsi merupakan inti dari sebuah kegiatan perekonomian . Kegiatan perekonomian akan terhenti jika kegiatan produksi dan konsumsi tidak berjalan dengan baik . Dalam kaitannya dengan produksi dan konsumsi , konsumen dan produsen merupakan tokoh penting dalam kegiatan ini . Proses interaksi yang terjadi di pasar mengakibatkan perputaran uang antar konsumen dan produsen berjalan dengan lancer . Rumah tangga konsumen memperoleh uang melalui penjualan barang dan jasa . Kondisi ini disebut sebagai simbiosis mutualisme antara sector rumah tangga perusahaan dan rumah tangga konsumen . Alfred Marshal menyebut bahwa permintaan akan faktor produksi merupakan turunan (derived demand) dari permintaan akan barang dan jasa yang timbukl karena kebutuhan manusia . Besarnya pendapatan baik produsen maupun konsumen tergantung pada :

1 . Kuantitas faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan

2 . Jumlah barang dan jasa yang berhasil diciptakan dengan adanya produksi

3 . Tingkat harga penggunaan yang berlaku , karena faktor produksi juga mempunyai harga yang akan menjadi biaya produksi bagi perusahaan .

Permintaan akan barang timbul karena individu pada sektor rumah tangga :

1 . Memerlukan barang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya

2 . Memiliki daya beli ( pendapatan ) yang diperoleh dari penjualan atas faktor – faktor produksi yang dimilikinya ke sektor rumah tangga perusahaan .

Dalam kaitannya dengan hal diatas , untuk memproduksi suatu barang dan jasa , perusahaan memerlukan sumber atau faktor pruduksi . Yaitu input – input yang dibutuhkan untuk mencipatakan output produk . Hubungan antara input dan output digambarkan sebagai berikut :

Q = f ( K , L ,T , N )

Dimana Q = Output atau produk

K = Kapital / modal

L = Labour / tenaga kerja

T = Tekhnologi

N = Nature / Tanah / Sumber daya alam

S = Skill / Entepreneur

Dari fungsi hubungan antara input dengan output diperoleh biaya produksi untuk masing masing tingkat out put

Salah satu cakupan teori dalam ekonomi mikro adalah cost atau biaya. Biaya ini memiliki berbagai macambentuk dan relasi dengan dua kegiatan terpenting dalam perekonomian yaitu, produksi dan konsumsi.

Definisi dari biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan telah terjadi untuk tujuan tertentu (Mulyadi; 1993).

Biaya ini memiliki empat unsur pokok dalam definisinya, yaitu :

1.Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi.

2.Diukur dalam satuan uang

3.Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi

4.Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.

Biaya juga dikelompokkan menjadi beberapa bagian :

· Dalam perusahaan manufaktur biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu:

a. Biaya produksi

Biaya produksi adalah biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Menurut obyek pengeluarannya biaya produksi ini dibagi menjadi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsungdan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenagakerja langsung disebut juga biaya utama (primer cost). Sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overheadpabrik disebut pula biaya konversi (conversion cost), yang merupakan biaya untuk mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi.

b. Biaya pemasaran

Biaya pemasaran merupakan biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produksi.

c. Biaya administrasi dan umum

Biaya administrasi dan umum merupakan biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produksi.

· Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua:

a. Biaya langsung (direct cost )

Biaya langsung merupakan biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena sesuatu yang dibiayai. Biayaproduksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

b. Biaya tidak langsung (indirect cost )

Biaya tidak langsung merupakan biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik

Dari pengelompokkan ini juga dapat terlihat bahwa pada biaya, kegiatan konsumsi dan produksi sangat berkaitan erat. Karena untuk melakukan sebuah kegiatan produksi diperlukan berbagai macam biaya tentunya. Dan untuk melakukan sebuah kegiatan konsumsi harus ada pengorbanan yang dilakukan oleh seorang knsumen untuk memenuhi kebutuhannya, nah pengorbanan tersebut adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh seorang konsumen.

Seperti pada perilaku konsumen , Dalam berperilaku seorang produsen juga dibatasi dengan besar biaya yang harus dikeluarkan dan juga besarnya produk yang bisa dibuat . Hal ini disebut dengan isocost dan isoproduct . Isoproduct adalah kurva yang menghubungkan kombinasi antara faktor produksi yang mampu memproduksi sejumlah barang tertentu . Sifat Isoproduct sama dengan kurva indifferent . Isocost adalah garis yang menghubungkan kombinasi faktor – faktor produksi pada tingkat pengeluaran biuaya tertentu .

Sumber :

id.wikipedia.org/wiki/biaya

id.shvoong.com/business-management/accounting/2138610-macam-macam biaya/#ixzzlkWzLX4EC

saintaths.blogspot.com/2011/05/teori-ekonomi-mikro-biaya-produksi.html

elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/peranggaran/bagian3-analisispendukung-bab10-budget biaya fleksibel.pdf

google.com

10 Desember 2011

Pengaruh Pendapatan Ruas Jalan Tol Lingkar Jawa

0 komentar

Jalan tol Lintas Jawa atau yang lebih dikenal dengan Jalan Tol Trans Jawa adalah jaringan jalan tol yang menghubungkan kota – kota di pulau jawa . Jalan Tol ini menghubungkan dua kota besar di Indonesia , Jakarta dan Surabaya melalui jalan tol . Pemerintah merencankan pembangunan jalan tol Trans Jawa sekitar 1000 km yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya . Diantaranya ruas jalan tol tersebut adalah :

1. Jalan Tol Jakarta-Cikampek 72 Km (beroperasi sejak 1988)

2. Jalan Tol Cikampek-Palimanan 116 Km (direncanakan selesai september 2014)

3. Jalan Tol Palimanan-Kanci 26,3 Km (beroperasi sejak 1998)

4. Jalan Tol Kanci-Pejagan 35 Km (beroperasi sejak 26 Januari 2010)

5. Jalan Tol Pejagan-Pemalang 57,50 Km (direncanakan operasi 2011)

6. Jalan Tol Pemalang-Batang 39 Km (direncanakan operasi 2011)

7. Jalan Tol Batang-Semarang 75 Km (direncanakan operasi 2011)

8. Jalan Tol Semarang-Solo 75,7 Km (seksi I Semarang-Ungaran diresmikan November 2011, seksi II, III, IV direncanakan 2012)

9. Jalan Tol Solo-Ngawi 20,9 Km

10. Jalan Tol Ngawi-Kertosono 49,51 Km

11. Jalan Tol Kertosono-Mojokerto 41,65 Km (rencana operasi 2012)

12. Jalan Tol Mojokerto-Surabaya 34 Km (Seksi 1A beroperasi sejak 27 Agustus 2011, seksi berikutnya rencanan operasi 2013)

Ruas jalan tol tersebut merupakan proyek yang belum terselesaikan sepenuhnya , karena hanya sebagian yang baru terselesaikan . Tapi diperkirakan proyek ini akan selesai pada tahun 2014 . Pembangunan yang akan menghabiskan biaya ratusan milyar ini diharapkan akan menghasilkan efisisensi. Efisisensi yag dimaksud disini adalah dengan dibangunya ruas Tol Lingkar Jawa diharapkan dapat memberikan kemudahan untuk masyarakat yang akan berpergian menuju Jakarta – Surabaya maupun sebaliknya . Sementara itu , efisiensi yang dilakukan tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah Pendapatan Negara (Income) , yang selanjutnya akan meningkatkan tingkat konsumsi dan tingkat Investasi negara . Untuk lebih memahami mengenai pengaruh antara perubahan pendapatan dengan tingkat konsumsi dan tingkat investasi yang dilakukan berikut kurva yang menggambarkan hubungan tersebut .



Dari kurva tersebut dapat digambarkan bahwa pada saat tingkat pendapatan berada di Ya yang berarti tingkat konsumsi tetap . Sehingga jumlah pendapatan hanya bisa dilakukan untuk konsumsi . Kemudian tingkat pendapatan bertambah menjadi Ye, peningkatan ini menyebabkan jumlah konsumsi dapat terpenuhi dan dapat melakukan Investasi , keadaan inilah yang dinamakan Equilibrium dimana Y = C + I . Kemudian dengan bertambahnya pembangunan tol , diharapkan akan meningkatkan jumlah pendapatan seperti kurva Yp yang membuat jumlah konsumsi dan investasi juga akan meningkat . Karena jumlah konsumsi maupun investasi meningkat diharapkan stabilisasi nasional dapat terjadi . Oleh karena itu , agar semua dapat tercapai diharapkan proyek Jalan Tol Lingkar Jawa ini dapat cepat terselesaikan sehingga tidak hanya dapat membantu masyarakat pengguna Jalan Tol , tetapi juga dapat membantu semua masyarakat . Karena meningkatnya Pendapatan yang berasal dari jalan tol tersebut merupakan salah satu kontribusi untuk membangun perekonomian Indonesia

8 Desember 2011

Pertamax naik , pendapatan Pertamina pun turun drastis

0 komentar
Permasalahan :
Mengapa kenaikan pertamax berdampak dengan menurunnya jumlah pendapatan PT.Pertamina ?

Analisis:
Kenaikan BBM khususnya untuk jenis pertamax telah menjadi buah bibir untuk sebagian kalangan masyarakat . Bukan hanya dampak negatif yang berpengaruh unuk masyarakat , tapi untuk PT.Pertamina sendiri hal ini mengakibatkan dampak negatif . Kenaikan pertamax yang seharusnya dapat berdampak positif untuk PT.Pertamina , berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada . Pendapatan yang diperkirakan akan meningkat oleh PT.Pertamina dengan adanya kenaikan harga pertamax justru membuat pendapatan PT.Pertamina menjadi menurun drastis . Hal ini disebabkan karena jumlah konsumen Pertamax sebagian besar beralih ke Premium yang merupakan BBM bersubsidi . BBM bersubsidi yang notabene dikhususkan untuk kalangan menengah kebawah justru juga dinikmati oleh kalangan menengah ke atas yang semula merupakan pengguna pertamax . Kenaikan pertamax yang sangat tinggi di kondisi perekonomian saat ini , membuat banyak masyarakat bahkan yang bisa dikategorikan kalangan menengah ke atas berpikir 2 kali untuk membeli pertamax . Oleh karena itu banyak yang beralih ke premium . Hal ini secara langsung berdampak dengan menurunnya jumlah pendapatan PT.Pertamina . Untuk bisa lebih memahami mengenai penurunan tersebut saya akan memberikan contoh sebagai bahan ilustrasi .
Pada awalnya harga pertamax sebesar Rp 6.000,- per liter dan harga premium sebesar Rp 4500,- per liter , jika jumlah konsumen sebanyak 1000 orang maka perhitungan pendapatan kotor seperti berikut :
Pertamax = 1000 * 6000 = 6.000.000
Premium = 1000 * 4500 = 4.500.000 +
10.500.000
Jadi jumlah pendapatan PT.Pertamina dimisalkan sebesar Rp 10.500.000 sebelum adanya kenaikan harga pertamax .

Tapi dengan adanya kenaikan harga pertamax yang menjadi Rp 8.000,- per liter maka jumlah konsumen yang semula berjumlah 1000 orang , menjadi 400 orang dan 600 orang beralih ke premium sehingga jumlah konsumen premium menjadi bertambah sebanyak 1600 maka perhitungan pendapatan kotornya menjadi seperti berikut :
Pertamax = 200 * 8000 = 1.600 .000
Premium = 1800*4500 = 8.100 .000+
9.700.0000
Jadi ada penurunan sebesar 800.000 , hal ini akan cukup signifikan jika jumlah konsumen nyata akan melebihi jumlah contoh diatas .

Solusi :
Pemerintah seharusnya dapat lebih mempertimbangkan tentang permasalahan kenaikan pertamax agar para konsumen pertamax tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi . Selain itu , indikator pemakai yang berhak untuk BBM bersubsidi agar lebih diperjelas bagaiaman org yang berhak untuk BBM bersubsidi tersebut . Karena bukan berarti pemakai kendaraan roda 2 adalah orang kalangan menengah ke bawah , tetapi banyak juga yang merupakan dari kalangan menengah ke atas , dan tidak selamanya pengguna kendaraan roda 4 adalah orang dari kalangan atas , tapi bisa juga merupakan konsumen dari golongan menengah seperti supir angkot yang berhak untuk mendapatkan BBM bersubsidi tersebut . Dengan banyaknya pengguna BBM bersubsidi yang sebagian merupakan konsumen dari golongan menengah ke atas , akan memurunkan jumlah pendapatan nasional karena banyak jumlah yang harus disubsidi oleh pemerintah . Oleh karena itu seharusnya kenaikan Pertamax atau BBM lainnya kecuali premium harus di setarakan dengan kenaikan harga premium , atau kenaikan pertamax dan membuat premium menjadi BBM bersubsidi seharusnya diseimbangkan dengan indikator siapa saja yang berhak mendapatkan BBM bersubsidi dan lebih diperketat untuk kebijakan itu .
 

dyaluppha , , Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea


Smashed Pink Can